Sabtu, 11 Oktober 2014
ENREKANG ( PERMANDIAN ALAM LEWAJA )
Salah Obyek wisata di Kabupaten Enrekang yang menarik adalah Pemandian Alam Lewaja. Dari pertigaan depan Rumah Sakit Massenrempulu menuju ke utara melalui Jalam Jendral Sudirman yang merupakan kompleks pendidikan, mulai Kantor Dinas Dikpora, Pesantren Modern Darul Falah, SMA/MA Muhammadiyah, SMPN 1, SMAN 1 melawati Lapangan Abu Bakar Lambogo di Batili.
Dari Lapangan Batili ” Abu Bakar Lambogo” lanjut ke utara timur menuju dusun kuku’ dengan jalanan berliku diantara sawah dan latar pegunungan hijau. Indahnya pemandangan yang memikat tetap harus mewaspadai jalanan sempit yang tidak rata dan berliku.
Bulan lalu bertempat di stadion Massenrempulu diselenggarakan Habibie Cup, even sepakbola yang diikuti kesebelasan dari berbagai kabupaten di sulawesi selatan dan propinsi tetangga. Enrekang dalam penyelenggaraan ini sukses sebagai tuan rumah dan sukses sebagai Juara I.
Mendekati pemandian alam lewaja kita disuguhi pemandangan yang menarik berupa air terjun di sisi utara timur jalam, kurang lebih 500 meter dari pemandian. Ini air terjun yang berada diluar kompleks pemandian Lewaja, yang muncul dan kelihatan dari jalan pada saat musim penghujan sedang pada musim kemarau kurang begitu kelihatan dari jalanan
Memasuki Komplek pemandian Lewaja, terdapat kolam renang yang sumber airnya berasal dari pegunungan disekitar lokasi, air pegunungan yang bersih dan segar. Terdapat beberapa fasilitas penunjang kolam renang antara lain, ruang penonton (Tahun 2009 lalu menjadi tuan rumah porda renang sulsel), ruang ganti, tribun utama yang cukup luas, lapangan futsal, papan lompat, papan luncur bagi anak-anak, penyedia makanan ringan dan bakso.
Pemandian alam yang berupa air terjun yang sering dikunjungi warga masyarakat utamanya anak-anak muda adalah air terjun dibagian dalam kompleks dicelah pegunungan melalui jalan setapak kurang lebih 1 km dari kolam renang. Sisi kanan bukit dan sisi kiri lembah/jurang pengunjung harus ekstra hati-hati selain sempit juga seringkali jalanan licin. Di air terjun sinilah biasanya warga masyarakat berendam di kolam yang berada dibawah air terjun disela-sela bebatuan yang besar.
Jumat, 10 Oktober 2014
GUNUNG NONA ( BAMBA PUANG) ENREKANG
Buttu Kabobong adalah nama sebuah gunung unik yang terletak di Kabupaten Enrekang. Tepatnya di poros jalan dari arah Rappang, Kabupaten Sidrap. Dikatakan unik karena bentuk gunung ini menyerupai alat reproduksi wanita dan dipastikan hanya satu-satunya di dunia. Selain unik dan penuh daya tarik, gunung ini juga ternyata punya legenda yang secara turun temurun menyisakan berbagai versi, namun pada prinsipnya mengandung makna yang sama, yakni pesan moral dari para leluhur setempat tentang pantangan keras untuk melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Kisah di bawah ini adalah salah satu versi yang dihimpun dari berbagai sumber sebagaimana berikut :
Pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Bambapuang terdapat suatu kerajaan tua yang bernama Kerajaan Tindalaun. Sementara di dalam kerajaan itu sendiri terdapat sebuah perkampungan kecil yang juga dinamai Tindalun. Konon pada suatu ketika, datanglah seorang yang disebut To Mellaorilangi’ (orang yang turun dair langit) atau yang dalam istilah lainnya disebut To Manurung di Kampung Tindalun yang terletak di sebelah selatan Gunung Bambapuang tersebut. To Manurung ini juga menurut riwayatnya konon datang dari Tangsa, yaitu sebuah daerah di Kabupaten Tana Toraja. Mulanya, di Tangsa ada seorang ibu muda cantik bernama Masoang yang mempunai lima orang anak. Entah karena apa, kelima anak Masoang itu terbagi-bagi. Yakni dua orang ke Tana Toraja Barat, dua lainnya tinggal di Tangsa, kemudian yang satu orang lagi dianggap menghilang karena kepergiaannya tidak diketahui.
Beberapa hari kemudian tak jauh dari sebuah perkampungan, pada suatu malam, masyarakat Tindalun melihat ada seonggok api yang menyala seolah tak ada padamnya. Karena didorong rasa keingitahuan, masyarakat lalu mencoba mendekati sumber nyala api tersebut. Dan ternyata, tak jauh dari situ ada anak laki-laki yang rupawan, ganteng serta kulitnya putih bersih. Bahkan menurut penilaian masyarakat Tindalun ketika itu, selain ganteng , anak itu juga memiliki ciri sebagia anak To Malabbi’. Karenanya, si anak yang tidak diketahui asal usulnya itu lalu diambil dan dibawa ke Kampung Tindalun. Boleh jadi anak inilah yang disebut sebagai To Manurung.
Ringkas cerita, ketika si anak lelaki tersebut menginjak dewasa, ia lalu dikawinkan dengan salah seorang putri raja Kerajaan Tindalun yang sangat cantik. Di mana setelah pesta perkawinan yang semarak dan yang dilaksanakn secara adat istiadat setempat itu, masyarakat pun secara spontan lalu membuatkan sebuah istana baru bagi pasangan ini. Karena menganggap perkawinan itu adalah penyatuan dari anak seorang raja dengan To Mellaorilangi’ atau To Manurung.
Selanjutnya dari perkawinan itu, lahirlah putra mereka yang diberi nama Kalando Palapana, kemudian dinobatkan sebagai Raja Tindalun. Dia memerintah beberapa perkampuangan di situ.
Seperti diketahui, Tindalun ini merupakan wilayah yang ketika itu amat kaya dengan sumber daya alamnya. Setiap musim panen, masyarakat sangat bersuka ria karena hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah. Itu sebabnya kehidupan masyarakat Tindalun rata-rata makmur dan sejahtera. Cuma sayangnya, kondisi inilah yang membuat mereka lantas lupa diri. Suasana hura-hura nyaris tak terlewatkan setiap saat. Bukan hanya itu, konon karena kekayaan yang dimiliki, perangai masyarakatpun banyak yang mulai berubah. Tatanan perilaku yang selama ini sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat leluhur, mulai bergeser. Kehidupan pergaulan bebas pun kabarnya sempat mewarnai hari-hari mereka. Dengan kata lain, perubahan strata ekonomi yang begitu pesat ketika itu, menjadikan masyarakat Tindalun seolah lupa dengan jati dirinya.
Lalu bagaimana dengan Raja Kalando Palapana atas kejadian itu?, tentu saja sangat gusar. Raja muda ini kemudian memanggil para tetua adat untuk dimintai pertanggung jawabannya, sekaligus memerintahkan agar segera mengatasinya. Raja sangat kuatir jika perbuatan menyimpang yang dilakukan masyarakatnya itu dibiarkan, maka akan mendapat azab dari Tuhan Sang Pencipta Alam.
Memang menurut kisahnya, para tetua adat tersebut telah melaksanakan titah sang raja untuk menghentikan perilaku menyimpang masyarakat itu. Namun jangankan berhenti, malah sebaliknya perbuatan masyarakat itu semakin menjadi-jadi. Hubungan intim di luar nikah seakan menjadi hal yang rutin tanpa bisa dicegah. Larangan berdasarkan agama dan adat istiadat, bagai tak digubris, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sebelah timur ibukota kerajaan.
Karena sulit dicegah, maka suatu hari Raja Tindalun mengundang para pejabat kerajaan dan tetua adat untuk melakukan pembahasan secara khusus. Di mana kesimpulan dari hasil pembahasan yang digelar di atas bukti sekitar. Tindalun itu, antara lain menyebutkan akan memberi sanksi dan hukuman seberat-beratnya bagi siapa saja tanpa kecuali yang kedapatan melakukan hubungan suami istri diluar nikah. Namun apa lacur?, lagi-lagi masyarakat tidak peduli. Hubungan bebaspun bukan hanya pada malam hari dilakukan, tapi disiang bolong pun perbuatan itu dilakukan. Ibaratnya, masyarakat seperti sudah kehilangan akhlak dan moralnya. Celakanya lagi, penyakit masyarakat ini bahkan sempat mewabah di kalangan kerabat kerajaan menyusul terlibatnya salah seorang anak raja Tindalun.
Kabarnya, pasangan selingkuh anak raja Tindalun dimaksud adalah anak gadis dari salah seorang tetua adat setempat. Yang akhirnya, pada malam kejadian itu, ketika kedua anak manusia ini sedang hanyut dalam kenikmatan hubungan intim di luar nikah, sekonyong-konyong datang bencana yang memporakporandakan wilayah kerajaan Tindalun. Rupanya Tuhan telah menunjukkan murkanya. Mereka yang selama ini tak mau lagi mendengar titah rajanya, dan gemar melakukan hubungan intim di luar nikah, semua dilaknat menjadi bukit-bukit. Di antaranya ada yang menyerupai kelamin wanita. Gunung yang menghadap ke barat dan terletak di sebelah timur Gunung Bambapuang inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Buttu Kabobong. Sedangkan pada sebelah barat Buttu Kabobong, terdapat pula gunung yang menjorok ke seberang menghampiri pusat Buttu Kabobong. Gunung ini bentuknya menyerupai “maaf” alat kelamin laki-laki. Antara kedua gunung ini dibatasi oleh sebuah anak sungai.
Demikian sekelumit legenda tentang Buttu Kabobong, yang jika ditelaah, sesungguhnya mempunyai pesan moral agar umat manusia di mana pun, tidak melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Karena hal itu merupakan perbuatan zinah yang sangat dilarang oleh agama. Hukumnya adalah dosa besar.
Kamis, 09 Oktober 2014
SEJARAH ENREKANG
Kabupaten Enrekang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan , Indonesia . Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Enrekang .
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa.
Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri.
Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu') berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja.
Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa.
Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla', Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.
Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.
Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.
Melihat dari kondisi sosial budaya tersebut, maka beberapa masyarakat menganggap perlu adanya penggantian nama Kabupaten Enrekang menjadi Kabupaten Massenrempulu', sehingga terjadi keterwakilan dari sisi sosial budaya. Sejarah terbentuknya Kabupaten Enrekang
Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU' yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedangkan sebutan Enrekang dari ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT dan dari sinilah asal mulanya sebutan ENDEKAN.
Masih ada arti versi lain yang dalam pengertian umum sampai saat ini bahkan dalam Adminsitrasi Pemerintahan telah dikenal dengan nama “ENREKANG” versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Daerah Kabupaten Enrekang adalah daerah pegunungan sudah mendekati kepastian, sebab jelas bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung- gunung dan bukit-bukit sambung- menyambung mengambil ± 85% dari seluruh luas wilayah sekitar 1.786.01 Km².
Menurut sejarah, pada mulanyaKabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar yang bernama MALEPONG BULAN, kemudian kerajaan ini bersifat MANURUNG dengan sebuah federasi yang menggabungkan 7 kawasan/kerajaan yang lebih dikenal dengan federasi ”PITUE MASSENREMPULU”, yaitu:
1. Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh Arung/Puang Endekan
2. Kerajaan Kassa yang dipimpin oleh Arung Kassa'
3. Kerajaan Batulappa' yang dipimpin oleh Arung Batulappa'
4. Kerajaan Tallu Batu Papan (Duri) yang merupakan gabungan dari Buntu Batu, Malua, Alla'. Buntu Batu dipimpin oleh Arung/Puang Buntu Batu, Malua oleh Arung/Puang Malua, Alla' oleh Arung Alla'
5. Kerajaan Maiwa yang dipimpin oleh Arung Maiwa
6. Kerajaan Letta' yang dipimpin oleh Arung Letta'
7. Kerajaan Baringin (Baringeng) yang dipimpin oleh Arung Baringin Pitu (7) Massenrempulu' ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV M.
Tetapi sekitar pada abad ke XVII M,
Pitu (7) Massenrempulu' berubah nama menjadi Lima Massenrempulu' karena Kerajaan Baringin dan Kerajaan Letta' tidak bergabung lagi ke dalam federasi Massenrempulu'.
Akibat dari politik Devide et Impera, Pemerintah Belanda lalu memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Pemerintah Kerajaan Belanda (Korte Verkaling), dimana Kerajaan Kassa dan kerajaan Batu Lappa' dimasukkan ke Sawitto.
Ini terjadi sekitar 1905 sehingga untuk tetap pada keadaan Lima Massenrempulu' tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya yang dipecah. Beberapa bentuk pemerintahan di wilayah Massenrempulu' pada masa itu, yakni:
1. Kerajaan-kerajaan di Massenrempulu' pada Zaman penjajahan Belanda secara administrasi Belanda berubah menjadi Landshcap.
Tiap Landschap dipimpin oleh seorang Arung (Zelftbesteur) dan dibantu oleh Sulewatang dan Pabbicara /Arung Lili, tetapi kebijaksanaan tetap ditangan Belanda sebagai Kontroleur.
Federasi Lima Massenrempulu' kemudian menjadi:
Buntu Batu, Malua, Alla'(Tallu Batu Papan/Duri), Enrekang (Endekan) dan Maiwa.
Pada tahun 1912 sampai dengan 1941 berubah lagi menjadi Onder Afdeling Enrekang yang dikepalai oleh seorang Kontroleur (Tuan Petoro).
2. Pada zaman pendudukan Jepang (1941– 1945),
Onder Afdeling Enrekang berubah nama menjadi Kanrikan.
Pemerintahan dikepalai oleh seorang Bunkem Kanrikan.
3. Dalam zaman NICA (NIT, 1946–27 Desember 1949), kawasan Massenrempulu' kembali menjadi ONDER AFDELING ENREKANG.
4. Kemudian sejak tanggal 27 Desember 1949 sampai 1960 Kawasan Massenrempulu berubah menjadi KEWEDANAAN ENREKANG dengan pucuk pimpinan Pemerintahan disebut Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang ( KPN ENREKANG ) dan meliputi 5 (lima) SWAPRAJA :
1.SWAPRAJA ENREKANG
2.SWAPRAJA ALLA
3.SWAPRAJA BUNTU BATU
4.SWAPRAJA MALUA
5.SWAPRAJA MAIWA
KODE EROR PRINTER CANON MP 237
Kode Error Printer Canon MP 237, Canon MP 237 jika mengalami kesalahan maka akan diberitahu dengan lampu alarm LED bekedip/blinking orange dan menampilkan kode error printer di LCD monitor Komputer sehingga Printer Canon MP 237 tidak dapat mencetak data. Kode Error Canon MP 237 biasa muncul dengan angka seperti 1300, 5011, 5100 dan menyebabkan printer Canon MP 237 tidak dapat mencetak data. Kode Error Canon MP 237 biasanya disebabkan karena Paper Jammed, Printer is out of paper, The FINE cartridge cannot be recognized dan masih banyak lagi.
Cara Mengatasi Error 5011 canon MP258, MP287, MP237 klik DI SINI
Berikut ini Kode Error Canon MP 237 dan Cara Mengatasi Kesalahan dengan Kode Error Canon MP 237 :
Error 1000 Canon MP 237 : Printer is out of paper / paper does not feed, Ditandai dengan blinking 2x pada Canon MP 237 dan untuk mengatasinya masukkan kertas ke bagian rear tray kemudian tekan tombol Hitam/warna pada Printer
Error 1300 Canon MP 237 : Paper Jammed, ditandai dengan blinking 3x pada Canon MP 237 dan cara mengatasinya ambil kertas yang menyangkut pada printer.
Error 1687 Canon MP 237 : The FINE Cartridge is not installed properly, ditandai blinking 4x pada Printer canon MP 237 dan cara mengatasinya, pastikan pemasangan cartridge sudah benar dan mengunci cartridge.
Error 1401, 1403, 1485 Canon MP 237 : The FINE Cartridge is not installed properly, disertai blinking 5x dan cara mengatasinya adalah pasang cartridge dengan benar jika masih terjadi ganti cartridge dengan yang baru.
Error 1486, 1487 Canon MP 237 : FINE Cartridge is not installed in the correct position, disertai dengan blinking 7x dan cara mengatasinya adalah pastikan pemasangan cartridge sudah benar jika masih terjadi coba ganti dengan cartridge baru.
Error 1700 Canon MP 237 : Ink absorber is almost full, disertai blinking 8x dan cara mengatasinya adalah lakukanlah head cleaning pada printer Canon MP 237.
Error 1686 Canon MP 237 : The remaining ink level cannot be detected, disertai blinking 13x karena printer tidak bisa mendeteksi level tinta, tekan tombol stop/reset selama 5 detik untuk mengabaikan error.
Error 1684 Canon MP 237 : The FINE cartridge cannot be recognized, disertai blinking 14x karena cartridge tidak terpasang dengan benar atau cartridge tidak kompatibel dengan printer, ganti cartridge denga yang baru.
Error 1682 Canon MP 237 : The FINE cartridge cannot be recognized, disertai blinking 15x dan cara mengatasinya adalah ganti dengan cartridge baru karena catridge lama sudah rusak.
Error 1688 Canon MP 237 : The ink has run out, disertai dengan blinking 16x dan cara mengatasinya tekan tombol stop/reset selama 5 detik.
Error 5100 Canon MP 237 : Paper Jammed disertai blinking 2x dan cara mengatasinya bersihkan kertas menyangkut pada printer.
Error B200 Canon MP 237 : Blinking 10x, Matikan Printer kemudian cabut kabel power yang menyambung ke listrik selama beberapa menit kemudian pasang dan nyalakan kembali.
Beberapa Kode error pada printer canon MP 237 antara lain 5011, 5012, 5200, 5400, 5700, 6000, 6800, 6801, 5B00, 6930, 6931, 6932, 6933, 6936, 6937, 6938, 6940, 6941, 6942, 6943, 6944, 6945, 6946 dan cara mengatasinya adalah dengan mencabut kabel power printer yang menyambung ke listrik selama beberapa menit kemudian nyalakan kembali,
Langganan:
Postingan (Atom)